BALI NOT FOR SALE

BALI LEBIH CANTIK SEDERHANA

SUPERMAN IS DEAD

WAWANCARA SUPERMAN IS DEAD

Tuesday, May 31, 2016

Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Jerinx SID Kerap Diintimidasi

 Bali merupakan Pulau Dewata dan juga surga bagi para penduduk juga wisatawan. Namun kelestarian alam dan budaya Bali tengah terancam dengan upaya reklamasi atau pengurukan yang di lakukan di Teluk Benoa. Setidaknya hal itu yang tengah disuarakan oleh Jerinx Superman Is Dead (SID).

Jerinx SID yang melakukan penolakan terhadap reklamasi yang dilakukan di kampung halamannya bersama Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBali), kerap mendapat intimidasi saat menyuarakan aspirasinya. Ditemui di Konser Svara Bumi untuk Bali Menolak Reklamasi, Jerinx SID membagikan pengalamannya tersebut.

"Intimidasi itu sudah terjadi sejak awal waktu kami menginisiasi gerakan ini. Sejak tahun 2012 saat kami kerap melakukan aksi di depan kantor Gubernur Bali, tidak jarang kami dikepung dan diprovokasi oleh aparat yang berjaga," ungkap Jerinx, di Rolling Stone Cafe, di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (30/9/2014).

Jerinx yang akan tampil bersama SID di Rolling Stone Cafe, Selasa (30/9/2014) malam, mengaku sering ditanyai soal keluarga dan alamat tempat tinggalnya. Beberapa ormas tidak jarang menghampiri bar yang dimililinya di daerah Kuta, Bali, hanya sekedar untuk mendapat alamat Jerinx.

"Bar saya yang di Kuta sering didatangi ormas-ormas berbadan kekar dan mengintrogasi pegawai saya hanya untuk mendapatkan alamat tempat saya dan keluarga saya tinggal," jelas Jerinx.

Namun ia bersama rekan-rekan musisi lain percaya bahwa gerakan yang tengah digalakan tidak harus dengan menggunakan cara kekerasan yang sama. "Kita tidak perlu melawan dengan kekerasan. Kita lawan dengan seni, dan salah satunya musik," tutur Jerinx.

Serukan Anti Reklamasi Bali, Jerinx SID Sering Diteror

Jerinx SID menolak reklamasi teluk Benoa karena ingin Bali tetap indah dengan alamnya.
Jerinx Superman Is Dead (SID) lantang menyerukan penolakan tentang reklamasi teluk Benoa, Bali. Menurutnya, hal itu malah menguntungkan pihak asing dan akan menghancurkan keindahan alam kampung halamannya.

Lantaran hal itulah, ia selalu mendapat teror. Bahkan, pria bertato ini sampai menjadi target operandi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab agar ia tak lagi lantang menyuarakan tentang reklamasi tersebut.

"Awal-awal sering diicari aparat, terus dicari preman. Rumah saya juga dilacak," kata Jerinx ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (26/1/2015).

Akan tetapi Jerinx masih diselamatkan, lantaran oran-rang yang mencarinya sama sekali tak bisa menemukannya. Sebab, Jerinx tak hanya berkoar mengenai penolakan reklamasi di Bali, akan tetapi di belahan Indonesia lainnya.

"Untungnya belum pernah ketemu. Aku selalu menyerukan go green, aku mau Bali ku indah," ujarnya.

Kini perlahan teror dan intimidasi kepadanya mulai sedikit menghilang. Lantaran dibantu awak media mengenai pemberitaan tersebut. "Setelah saya sering bicara di media ancaman itu mulai reda," kata Jerinx.

Jawaban Jerinx SID Soal Tuduhan Penyuka Sesama Jenis


Perjuangan Jerinx menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa memang bukan tanpa resiko. Sejumlah perlawanan dan aksi teror konon kerap diterimanya agar ia tak lagi lantang menyuarakan tentang proyek reklamasi tersebut.
Diungkapkan Jerinx baru-baru ini, di tengah parade budaya #BaliTolakReklamasi, sejumlah selebaran yang mendiskreditkan dirinya muncul menggunakan bahasa Bali.
Baca Juga
Tak ingin hal itu menjadi polemik berkepanjangan, penggebuk drum di SID ini pun memutuskan untuk menanggapinya di Instagram. Dirinya mengaku tak habis pikir dengan oknum yang mencoba menjatuhkannya lewat cara seperti itu.
"Jujur saya ngakak bacanya, lucu sekali orang-orang ini. Kalau mau menjatuhkan orang, lakukanlah dengan cara ksatria. Nggak usah pakai cara sebarin pamflet trus kabur," tulis Jerinx melalui akun Instagram @jrxsid, Minggu (25/10/2015).

Perihal tuduhan yang dituliskan di selebaran tersebut, Jerinx pun punya jawaban sendiri.
"Faktanya? Hobby saya surfing, ke gym, bersepeda dan kadang minum arak. Hehe. Tentang kehidupan personal, itu privasi saya dan saya bukan tipe orang yang suka pamer foto saat pacaran. Selain itu saya juga seorang pesco-vegetarian (tidak mengkonsumsi daging merah/putih) sejak 1997. Drugs? Iya... Saya suka ke drugstore membeli vitamin C dan omega 3," pungkas Jerinx.

Harapan Jerinx Terhadap Musisi Indonesia

Jerinx (Source: Instagram.com/jrxsid)  Perjuangan Jerinx melawan Reklamasi Teluk Benoa sama sekali belum berakhir. Penggemuk drum di Superman Is Dead ini bahkan sempat bertemu dengan Presiden Jokowi pertengahan April lalu untuk menyampaikan kekhawatirannya terhadap proyek tersebut.
Kalau dihitung-hitung, perjuangan Jerinx sudah lebih dari tiga tahun. Dia pun berencana untuk terus mencari dukungan baru agar apa yang diupayakannya selama ini tak lantas kandas di tengah jalan.

"Karena perjuangannya panjang, (masyarakat) harus terus-menerus diingatkan. Jadi kalau ada yang bosan, ada yang menggantikan. Makanya harus terus didengungkan. Jadi saat kita turun ke jalan-jalan, orang-orang akan terus datang walaupun bukan orang-orang yang sama," ucapnya ketika ngobrol bareng Liputan6.com di kawasan Teuku Umar, Bali.
Di sela-sela wawancara, Jerinx juga sempat mengungkapkan harapannya terhadap musisi-musisi besar di Tanah Air. Ia ingin agar para musisi tak sekedar bernyanyi, namun juga membawa sebuah pesan positif bagi para pendengarnya.
"Agar lebih memanfaatkan popularitas. Jadi nggak cuma untuk mereka saja, tapi juga bisa bermanfaat untuk banyak orang. Dan itu yang saya pelajari dari punk rock," tandas Jerinx

Hari Kebangkitan Nasional, Tiga Komponen Masyarakat Bali Pasang Baliho Tolak Reklamasi

Desa Adat Sukawati Tolak Reklamasi
Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ke 108 yang jatuh pada 20 Mei 2016, tiga komponen masyarakat Bali di Denpasar dan Gianyar menggelar aksi dengan pemasangan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa pada Jumat (20/5). Mereka di antaranya dari Banjar Alangkajeng, Denpasar, Desa Adat Renon dan Semeton Pasek Sukawati, Gianyar.

Banjar Alangkajeng memasang baliho dengan ukuran 3 x 4,5 meter beserta bendera berukuran 4×3 meter yang dipasang pada pukul 17.00. “Kami tidak ikut-ikutan, ini murni dari hati nurani kami untuk menjaga lingkungan,” ujar Anak Agung Putu Sugiartha selaku Kelian Banjar Alangkajeng.
Hal yang serupa juga dilakukan oleh Desa Pekraman Renon, Denpasar. Segenap masyarakat turut serta memasang baliho yang bertulisan “Tolak Reklamasi Berkedok Revitalisasi Teluk Benoa” lengkap dengan logo ForBALI.
Menariknya, baliho ini dipasang di semua banjar yang ada di Renon. “Jadi ada 4 Banjar yang ada di Renon, kami pasang serentak atas arahan Bendesa Adat,” tutur Eka selaku pemuda Renon.
Sementara itu di Gianyar, komponen dari Semeton Pasek Sukawati juga mendirikan baliho berukuran 4×6 meter di depan Griya Agung Banjar Babakan, Sukawati. “Teluk Benoa itu kawasan suci, jangan di utak atik, maka dari itu mesti di jaga,” tutur Ida Pandita Empu Siwa Budha Daksa Dharmita selaku pengelingsir warga pasek di Sukawati,
Pemasangan baliho ini juga sebagai bentuk untuk menegaskan dan menyosialisasikan hasil keputusan PHDI pusat tentang Kawasan Suci Teluk Benoa, agar nantinya tidak ada umat bingung, terlebih ada beberapa pihak yang ingin membuat keputusan tandingan dengan bergerilya mencari tanda tangan para Pandita.
Ida Pandita meminta gerakan ini dapat diikuti oleh perkumpulan warga lainnya yang ada di Bali. “Semoga saja, setelah warga pasek di Sukawati, ada warga lainnya juga seperti warga Pande dan sebagainya untuk turut serta dalam barisan masyarakat,” harapnya.
Tidak hanya mendirikan baliho, pada pukul 24.00, juga diadakan malam renungan suci dan doa bersama beberapa Pandita, pemangku dan warga memohon supaya semesta memberkati perjuangan rakyat Bali dalam menolak reklamasi Teluk Benoa.