BALI NOT FOR SALE

BALI LEBIH CANTIK SEDERHANA

SUPERMAN IS DEAD

WAWANCARA SUPERMAN IS DEAD

Tuesday, January 12, 2016

SID Tetap Ngotot Tolak Reklamasi Teluk Benoa Lewat Musik

PERJUANGAN SID DALAM MENOLAK REKLAMASI BALI

SID Tetap Ngotot Tolak Reklamasi Teluk Benoa Lewat Musik













Rencana reklamasi Teluk Benoa seluas 700 hektar oleh investor PT.TWBI (PT. Tirta Wahana Bali International) yang diduga mendapat dukungan dari para politisi di daerah, maupun di Senayan terus mendapatkan perlawanan rakyat Bali. Rakyat kian lantang bersuara menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dengan berbagai cara mereka sendiri, baik lewat demonstrasi, baliho, media sosial dan juga lewat musik.
Seperti yang ditempuh sekelompok musisi yang selama ini dikenal getol menyuarakan penolakan reklamasi. Sadar dan tak mau tanah kelahirannya dijarah, dirusak oleh proyek reklamasi, mereka bersolidaritas menyuarakan penolakan reklamasi menggunakan media kesenian.
Salah satu grup band yang getol menyuarakan penolakan revitalisasi Teluk Benoa ini adalah Superman Is Dead alias SID. Ketiga personilnya, Bobby Kool, Eka Rock, dan JRX dibesarkan di Kuta, yang kerap mereka sebut Kuta Rock City. Mereka gerah dengan tanah kelahiran mereka yang mulai 'panas' dikuasai kerakusan manusia.
JRX adalah personil yang paling vokal. Ia sering terlibat aksi-aksi demo menentang rencana reklamasi Teluk Benoa. Ia percaya bahwa Bali terkenal bukan karena hotel, resort, villa atau bangunan mewahnya, melainkan karena alam, seni-budaya dan sosial manusianya. Itu yang menjadi “ruh” Bali sendiri. Tanpa kemewahan hotel atau resor pun Bali tetap akan terkenal di dunia.
23 januari kemarin ia dan SID tampil dalam konser bertajuk Mother Earth's Calling di Denpasar. Ini bukan kali pertama ia meramaikan acara amal seperti ini. JRX memang tak pernah lelah menyuarakan penyelamatan Teluk Benoa yang kabarnya akan direklamasi dan dibangun Disneyland serta sirkuit F1.
SID berpartisipasi dalam konser Tolak Reklamasi Teluk Benoa, 23 Januari lalu / © facebook.com/SupermanIsDead
"Terima kasih semuanya yg sudah berdonasi semalam di konser "Mother Earth Calling, Music for Future". Perolehan donasi diterima panitia Rp. 12.753.000. Biaya tenda, venue, dan cost produksi lain-lain: Rp. 8.909.000. . Total donasi (bersih): Rp. 3.844.000. Dan seperti di acara-acara sebelumnya, dana donasi sepenuhnya didedikasikan untuk gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Alam memberkati kita semua." demikian tulis SID di akun official facebook dan twitternya.
Semangat, kawan-kawan. Tolak mereka dengan musik!

Kehidupan Anak Punk ala SID

Punk ala Superman Is Dead, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin


Di kuar tiga album yang dirilis sendiri kisaran 1997 sampai dengan 2002, Angels and the Outsiders menjadi judul album ke-4 superman is dead yang dirilis di bawah label Sony Music Entertainment Indonesia pada bulan Februari 2009. Berita membanggakan tersiar tak lama setelah itu : selain menggelar konser beberapa kota di Amerika serikat mulai bulan juni ini, SID juga diundang sebagai salah satu pengisi acara Vans Warped Tour 2009.

Diundang oleh event organizer Mastra Production dari Philadelphia,tur SID kali ini bertajuk From Bali with Rock. Setelah melihat jadwal Vans Warped Tour cocok dengan jadwal tur mereka, manajer NOFX kent Jamieson (SID pernah menjadi band pembuka NOFX di bali) dalan hal merekomendasikan SID kepada pendiri Vans Warped tour, Kevin Lyman, Pun berbuah manis. mereka didulat bermain di kevin says stage di 11 kota.

dengan ini mereka mencatat sejarah dengan menjadi band Asia pertama yang tampil di tur tersebut walau belum pernah merilis album di amerika. sebelum mereka, terdapat band dari beijing yang tampil di Warped Tour, namun berkat diboyong oleh labelnya yang berasal asal amerika. SID bisa dibilang mendapat kesempatan unjuk gigi murni berkat kerja keras dan kualitas mumpuni mereka.

dalam kata-kata mereka sendiri, tampil di amerika adalah, "A big chapter for us and one of our biggest dreams. sejauh ini kami sangat excited dan ada sedikit perasaan tegang juga." dengan waktu tampil hanya 20 menit, mereka berjanji dan akan menyanyikan repertoar tanpa ampun."hajar sejak awal,tanpa jeda dan pergi pada saat yang tepat," ujar mereka yang juga akan berencana memasang bendera indnesia di panggung. "dengan waktu yang singkat, kami akan coba meninggalkan kesan yang tajam menusuk."

Superman is dead berawal ketika drummer ari astina atau jerinx (jrx) bertemu dengan vokalis/gitaris Budi sartika atau Bobby kool di tahun 1995, dan membentuk band punk. Green Day dan NOFX menjadi Kiblat, kemudian datanglah basis Eka Rock, dan berdirilah Superman's Silvergun (diambil dari lagu Stone temple Pilots), yang kemudian permanen berganti menjadi superman is Dead, gerombolan hingr bingar ini mulai merilis album secara independen di tahun 1997 yait case 15, yang disambung dengan Superman is dead (1998), dan EP Bad bad bad (2002), setahun setelahnya mereka bergabung dengan sony untuk merilis album Kuta Rock city(2003) the Hangover decade(2004) dan Black Market love(2006)

butuh waktu agar nama mereka semakin luas dikenal namun mulai tahun 2003,nama SID mulai mencorong di tanah air. setelah menjadi band pembuka konser Hoobastank di Bali (2002), mereka mulai didapuk untuk berbagai pensi SMA di Jakarta hingga hingga dilirik media nasional. setahun setelahnya mereka memenangi penghargaan MTV awards dan AMI awards untuk kategor the best New Artist. di bulan oktober 2007, mereka mendapat kesempatan berharga menjalani tur di australia, menyambangi delapan kota dan menggelar 16 konser dalam waktu 33 hari, berbagi panggung dengan international Noise Conspiracy, NOFX, MXPX sampai Hoobastank.

SID terkenal dengan gaya dandanannya yang terencana dan serius. Namun di atas itu semua, SID memiliki pemikiran yang tak kalah serius dan tertuang dalam lagu-lagu mereka. Tak sekedar bergaya rockabily dan beringas dalam musik, SID memiliki kedalaman isi yang diutarakan dengan Fasih. Ekspresi dan Pkuralisme, diskriminasi, budaya kekerasan, kemerdekaan berpendapat, hingga isu lingkungan terang dalam lirik lagu yang cerdas, Kritis, tanpa mengurangi nilai musikalitas yang mereka junjung.

ketika disinggung perihal ini, mereka menjawab panjang lebar, "kami percaya sebuah isu akan bisa menjadi sedikit teratasi dan mulai menemukan solusi saat kita mulai terbiasa membicarakannya. contohnya, isu HIV dan global warming. mungkin suatu saat, hal yang sama akan terjadi dalam isu kesetaraan, atau SARA yang mudah-mudahan nantinya bisa memberi impact positif dalam kehidupan di indonesia yang multikultural. banyak musisi lain melihat apa yang kami lakukan ini tidak efektif. buat apa musisi bicara tentang kesetaraan dan perdamaian. And you know what? we don't give a flying fuck about what you think of us. we're rebels and we like to take some risk. kami tidak mengkalim diri kami lebih baik dari orang lain, tapi SID mencintai indonesia dan ingin melakukan sesuatu yang positif untuk pemikiran generasi muda. bagi SID, rasa ketidakpedulian tidak akan membawa kita kemana-mana. menjadi peduli adalah tindakan yang bernyali, karena kami punya musik, maka musiklah yang kami pakai sebagai senjata, kami nyaman dengan apa yang kami lakukan dan ada di posisi ini: sebuah band minortas dengan fanbase kuat yang tidak takut dengan dirinya dan selalu berpesta keras untuk bhinneka tunggal ika. Does thas sound familiar in indonesia? hell no."

seperti di album angel and the outsiders, SID mencatat lirik yang singkat namun menohok : "satu nusa/satu bangsa/satu nusa/saling mangsa" (luka indonesia). menurut SID, mereka ingin menonjolkan eneergi positivity, kerja keras dan semangat bhinneka tunggal ika dalam album yang mereka nilai memiliki sampul album terbaik sejak London Calling milik the clash. selain itu, mereka menyebut bahwa album ini adalah "A mind Opener untuk generasi yang meenganggap punk rock identik dengan permainan cepat penuh distorsi. kami suka bahwa SID tidak harus selalu bermain up-tempo untuk tetap menyalakan api pemberontakan."

berdiri selama lebih dari 10 tahun dengan personel yang sama adalah sebuah prestasi untuk band manapun. memasuki usianya yang ke 14, SID tetap gagah dan memegang teguh etika 'in your face' yang menjadi fondasi band punk rock. "kami merasa it's just the begining of SID. kami terlahir kembali dengan Angels and the Outsiders, dan kami masih terus belajar bagaimana cara menundukan indutri musik indonesia, belajar bagaimana menerjemahkan isi kepala dan hati kita dengan lebih utuh tanpa bias, agar pendengar juga bisa menerjemahkannya dengan benar," ujar mereka.ketika ditanya soal tantangan dalam hal mempertahankan keutuhan band keutuhan band, jawaban mereka jujur sekaligus mencerminkan kondisi musik indonesia yang sering ironis. "tantangan terbesar justru datang dari industri musik indonesia, dimana kami kadang dihadapkan dengan sebuah tembok besar bernama diskriminasi. hal-hal seperti itu yang kadang mebuat kita drop, namun kadang juga memberi motivasi untuk lebih keras lagi menampar wajah industri musik indonesia, dengan prestasi dan hal-hal positif tentunya"

sikap sadar diri sebagai minoritas dalam musik indonesia yang kini semakin homogen bukan berarti lantas mereka kehilangan gigi.penggemaar yang tetap setia dan berkembang dilihat sebagai refleksi SID terhadap masyarakat arus utama. dalam kata-kata mereka sendiri , "walaupun kami minoritas, kami makin kuat dan tidak pernah sendiri." dengan cita-cita tulus menjadi band yang membuat orang tua dan pacar anda resah , SID akan tetap merangsek maju beramunisi notasi, cinta dan kepedulian yang tak pernah habis.

 

Tiga Tukang di Balik Jutaan Penggemar




Di balik nama besarnya, tiga personil SID hidup sederhana. Jauh dari gemerlap musisi dengan jutaan penggemar.

Cerita berbeda itu saya dapatkan setelah membuat liputan tentang Superman is Dead (SID) untuk majalah Rolling Stone Indonesia. Sebelum liputan ini, saya mengenal SID dan tiga personelnya hanya dari sumber lain. Misalnya dari media massa atau teman mereka yang juga teman saya.
Dalam beberapa kesempatan, saya juga bertemu mereka. Tapi, tidak ada komunikasi secara personal. Hanya say hallo pada mereka, lalu mereka membalasnya. Beberapa kali saya nonton konser mereka, meski saya tak menikmatinya karena pada dasarnya saya memang tidak suka nonton konser bersama ribuan orang. Saya agak takut dengan keriuhan.
Berita media, obrolan teman, dan penampilan di panggung melahirkan kesan (image) di otak saya tentang SID: berangasan, gemerlap, dan selebritis. Kesan itu didukung ikon-ikon yang menempel, sengaja maupun tidak, pada SID dan tiga personilnya: tato, bir, punk, glam, rebel, dan semacamnya.
Awal Februari lalu, band yang lahir di Kuta pada tahun 1995 ini masuk Billboard Uncharted urutan ke-14. Dua minggu sebelumnya mereka ada di urutan ke-23. Masuknya, SID dalam Billboard Uncharted ini karena popularitas dan intensitas mereka di jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, MySpace, dan seterusnya.
Di Facebook, merekalah musisi Indonesia dengan penggemar terbanyak: hampir 1,8 juta fans!
Masuk Billboard karena punya hampir 2 juta orang? Wow! SID di otak saya makin jadi  band yang besar dan gemerlap. Begitu pula dengan tiga personilnya, I Made Putra Budi Sartika alias Bobby, I Made Eka Arsana alias Eka, dan I Gede Ari Astina alias Jerinx.
Tapi, aaah, stigma memang berbahaya. Begitu juga kesan saya tentang mereka. Setelah kenal secara personal, setidaknya lewat beberapa hari reportase, wawancara, dan pemotretan, saya jadi tahu bahwa stigma, kesan, anggapan, dan semua asumsi itu tak sepenuhnya benar.
Sebaliknya, mereka terlalu biasa untuk ukuran band dengan penggemar terbesar di negeri ini sekaligus musisi pertama dari Indonesia yang masuk daftar majalah musik bergengsi dunia, Billboard.

Tanpa Bir
Kesan bahwa SID itu angker pelan-pelan runtuh pas wawancara dengan mereka di Twice Bar, Kuta. Ini wawancara pertama bersama mereka.
Sebelum berangkat, saya sudah berpikir bahwa obrolan tiga jam itu akan dipenuhi asap rokok dan bir. Ternyata saya keliru. Tidak ada bir sama sekali selama wawancara tersebut. Eka si basis dan vokal latar hanya memesang teh hangat. Bobby, vokalis dan gitaris, pesan jeruk hangat. Jerinx, yang juga pemilik Twice Bar malah tidak minum sama sekali. Padahal, hampir tak pernah saya melihat mereka tampil tanpa bir, terutama di Bali.
Beberapa hari kemudian saya baru tahu alasan mereka kenapa tidak terlalu banyak minum bir. “Sudah makin tua. Kami makin mengurangi minum bir. Beda dengan dulu,” kata Bobby.
Di kesempatan lain I Gede Ardi Suryana alis Dodix, manajer SID, kemudian menambahkan cerita tentang ritual minum bir ini. Menurutnya, personil SID paling hanya minum bir ketika akan tampil. “Biasalah ritual kecil,” katanya.
Di luar itu, mereka termasuk jarang minum bir. Jauh dari kesan saya tentang mereka.
Begitu juga dengan rokok. Mereka terhitung tidak terlalu sering merokok setidaknya kalau dibandingkan teman-teman saya yang tukang hisap. Hehe.. Padahal, saya sudah berpikir bahwa selain peminum bir kelas advance, mereka juga perokok berat. Ternyata tidak berat-berat amat. Bobby malah bukan perokok sama sekali. “Hanya kadang-kadang merokok untuk keperluan sosial,” akunya.

Nasi Bungkus
Kesederhanaan SID juga terasa ketika kami bertemu di Radio Hard Rock, Kuta sekitar dua minggu setelah pertemuan pertama kami di Twice Bar. Pagi itu SID siaran di radio sebagai bintang tamu konser Outloud di Central Parkir Kuta.
Ketika saya tiba di sana, di kamar sempit tempat siaran Hard Rock ini sudah ada Jerinx yang memang tinggal di Kuta dan Bobby bersama Dodix manajer mereka. Eka belum terlihat.
Pas siaran sudah berjalan, Eka baru datang. Dia juga bawa sarapan. Sederhana banget yang dia bawa: nasi bungkus! Tepatnya nasi dengan bungkus plastik. Sepertinya ini nasi bungkus beli di pantai Kuta. Sayangnya, saya lupa tanya di mana beli nasi bungkusnya. Hihihi..
Dengan tarif tiap manggung antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta, meski juga kadang gratis kalau teman sendiri, personil SID masih mau makan nasi bungkus seharga Rp 5.000. Salut.
Nasi bungkus pula yang mereka makan ketika kami bertemu Kamis pekan lalu pada sesi foto bersama teman saya, Den Widhana, blogger yang juga web designer dan fotografer.
Hari itu seharian saya dan Deni memotret mereka secara bergantian. Pas jam makan siang tiga personil SID dan beberapa staf manajemen mereka berkumpul di kantor SID di Jalan Seroja, Denpasar Timur.
Kebetulan sekali hari itu juga ada perayaan ulang tahun dua personil SID, Eka yang lahir 8 Februari dan Jerinx yang lahir 10 Februari. Jadi, saya sudah mikir pasti akan ada makanan berlimpah dan mewah. Tapi, walah, ternyata mereka “hanya” makan nasi bungkus.
Ini sederhana apa pelit, sih? Wahaha..

Tukang Rakit
Bobby tinggal di Jl Padma, sekitar Kampus Universitas Ngurah Rai, Denpasar Timur. Rumah kontrakan seluas 2,8 are ini, kata Bobby, hasil main band dan jualan baju.
Hal menarik tentang Bobby adalah hobinya merakit sepeda. Dia mengaku merakit sepeda sejak masih SD. Hobi itu masih dia lakukan hingga saat ini meski sibuk ngeband. Salah satu buktinya sepedanya sekarang yang dia pakai dalam sesi foto. Sepeda ini dia rakit sendiri dari rongsokan seharga Rp 100.000. “Ini buktinya,” kata dia sambil menunjukkan foto rongsokan bodi sepeda di Blackberry-nya.



Rongsokan itu kemudian dia rakit sendiri dengan tambahan perangkat lain, seperti setir, sadel, pedal, dan seterusnya. Total habis sekitar Rp 2 juta. Weleh. Jatuhnya mahal juga, Bli. Hehe..
Selain hobi merakit sepeda, dan tentu saja gowes, Bobby juga suka mendesain. Karena itu dia juga memproduksi pakaian dengan label sendiri, Electrohell. Label ini dia buat bersama Rizal Tanjung, temannya sesama surfer. Sebelum total main musik, Bobby memang surfer. Dia juga membuat desain pakaian surfing sebelum total main musik di SID dan membuat label sendiri.
Bobby juga bercerita SID dulu main dari konser ke konser tanpa bayaran sama sekali. “Dulu diajak main saja sudah senangnya bukan main,” katanya. Honor profesional mereka pertama kali adalah ketika tampil di acara Granat, konser ala mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Udayana, Bali.
Waktu itu SID dibayar Rp 400.000. “Pas terima duit itu senangnya bukan main. Waah, bisa juga dapat duit dari tampil,” kata Bobby.
Tapi itu dulu. Sekarang tarif manggung SID antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta. Tapi, tarif ini sangat bisa dinego. Kalau acaranya besar plus banyak sponsor, mereka memang pasang tarif segitu. Kalau acaranya amal, mereka bersedia datang meski hanya dibayar sebotol bir atau setangkai mawar. Hehe..

Tukang Oprek
Selama sekitar 16 tahun membangun band, kini personil SID menerima hasilnya. Begitu pula Eka dengan Harley Davidson-nya. Toh, dia mendapatkan itu semua karena sejak kecil sudah terbiasa bekerja keras.
Tiap kali melihat SID tampil, saya merasa Eka berperan seperti joker, tukang bikin suasana jadi lebih kocak. Dia menghidupkan suasana dengan omongan-omongannya, terutama dalam Bahasa Bali.
Namun, pada sesi foto kami di rumah Bobby, kami minta dia berpose sangat serius dengan menghadap layar komputer. Pose ini disesuaikan dengan minatnya, internet dan komputer.

Sejatinya, Eka memang geek. Dia salah satu pelopor penggunaan internet di Bali. Sejak tahun 2000 dia sudah akrab dengan programming dan coding. Maklum, saat itu dia bekerja sebagai desainer www.baliaga.com, media harian online milik NusaBali, koran lokal yang sebelumnya bernama Nusa Tenggara.
Eka awalnya lebih banyak bekerja untuk desain grafis. Namun, karena dia disuruh mengelola website, dia kemudian belajar ngoprek website, belajar tentang program, coding, CMS, dan tetek bengek seputar website. Dalam bahasa pekerja teknologi informasi, pekerjaan semacam ini disebut ngoprek.
Hasilnya, dia makin mahir ngoprek website, mulai dari konsep, desain, sampai coding. Eka pula yang membuat website www.supermanisdead.net. “Sampai sekarang juga masih sering ngerjain pesanan website dari teman-teman,” katanya. Untuk mengerjakan pesanan website itu, Eka punya usaha sendiri di www.disposablelies.com. Eka tak mau menggunakan CMS berbasis open source, seperti WordPress, Joomla, dan semacamnya.
“Kalau pakai open source lebih gampang dibobol orang,” katanya.
Untuk semua keahliannya itu, Eka belajar secara otodidak. Dia satu-satunya personil SID yang lulus kuliah. “Karena merantau. Jadi kasian kalau sudah jauh-jauh ke Denpasar tapi tidak lulus kuliah,” katanya.
Eka lahir dan besar di Negara, Jembrana, sekitar 3 jam perjalanan dari Denpasar ke arah Gilimanuk. Kedua orang tuanya guru. Karena itu, dia mengaku punya tanggung jawab untuk menyelesaikan kuliah.
Dan, dia berusaha keras untuk menyelesaikan kuliah itu. Pada tahun kedua kuliahnya, Eka sudah mandiri. Dia bekerja di dua tempat sekaligus. Pagi di kantor Baliaga. Malamnya di tempat lain.
“Aku dulu pekerja keras. Keras sekali,” katanya.
Terbiasa bekerja keras sejak kuliah itu membuat Eka juga terbiasa dengan SID yang memulai karir dari dunia indie.

Tukang Ojek
Selama mengenal SID dari media atau cerita teman, Jerinx jadi sosok paling identik dengan SID. Dalam beberapa kesempatan diskusi tentang SID yang saya ikuti, Jerinx hadir mewakili SID. Jadi, kesan dia sebagai frontman memang tak terhindarkan.

Lewat status di Facebook ataupun twit personalnya, Jerinx paling sering mengangkat isu yang bagi banyak orang mungkin kontroversial. Misalnya, radikalisme, kelompok gay dan lesbian,  dan semacamnya. Jerinx terlihat paling keras kalau ngomong. Sayang, saya tak punya cukup waktu untuk ngobrol bersamanya secara personal kecuali ketika bersama teman-temannya.
Namun, selama beberapa hari melakukan reportase tentang SID, saya menangkap hal totally different dari sosok paling gahar dan sangar di SID ini.
Hal yang membuat saya salut pada Jerinx adalah kendaraannya. Dia masih naik motor butut Supra Vit dengan nomor polisi yang sudah memutih. Motornya juga agak dekil. Motor yang sama saya lihat dipakai Jerinx saat kami bertemu di Hard Rock Radio.
Di balik nama besarnya sebagai frontman SID, band dengan fans mencapai 1,8 juta orang plus image tentang anak band yang bagi banyak orang adalah bad boy, penampilan Jerinx di luar panggung biasa saja. Dia lebih mirip tukang ojek daripada frontman band sejuta umat. Hehe..
Kamis pekan lalu, kami berencana memotret dia pas main surfing. Tapi, karena dia ada acara di Ubud, maka kami mengikutinya ke sana begitu selesai berkumpul di kantor manajemen SID.
Dia mau menunggu kami untuk berangkat bersama. Saya merasakan kehangatan dari Jerinx sebagai teman, atau setidaknya tuan rumah pada tamunya. Dia rendah hati sekali.. Sepanjang perjalanan menuju Ubud, Jerinx beberapa kali melambaikan tangan menjawab salam dari orang yang melihatnya.
Di luar urusan musik, Jerinx juga mengelola clothing sendiri dengan label Rumble. Toko ini berkantor pusat di Kuta. Kini dia membuka cabang di Ubud persinya samping pintu gerbang Museum Antonio Blanco di dekat jembatan Tukad Campuhan. Kamis pekan lalu Jerinx ke sana untuk melihat upacara adat (melaspas) toko bercat hitam dan merah tersebut.
Karena sudah sore dan capek setelah motret seharian, saya tak banyak bertanya pada Jerinx yang juga sibuk memeriksa persiapan pembukaan toko. Sore itu toko baru tersebut masih belum berisi apa pun.
Jerinx pernah jadi vegetarian antara 1997-2007. “Tidak tega saja lihat binatang disembelih,” katanya. Tapi, kini Jerinx sudah makan daging lagi. “Tidak kuat juga kalau harus selalu menghindari daging, terutama saat konser,” katanya.
Toh, Jerinx masih menghindari makan daging dari hewan berkaki empat, seperti kambing, babi, dan sapi. Pantangan semacam ini biasanya dilakukan oleh pemimpin agama Hindu di Bali, seperti pemangku dan pedanda. Tapi, Jerinx mengaku mengikuti pantangan ini bukan karena alasan religiusitas. Lebih karena alasan itu tadi, kasihan.
Alasan Jerinx itu kian menguatkan pendapat saya tentang SID dan para personilnya. Di balik gemerlapnya, di belakang jutaan penggemarnya para personil SID ini orang-orang yang amat bersahaja

Makna Filosofi Galungan dan Kuningan

OM SWASTYASTU
Setiap menjelang hari Raya Galungan, pastilah kita sering menerima dan mengirim-membuat ucapan selamat baik secara langsung maupun melalui media, seperti surat kabar, majalah, TV, SMS, dsb. Jika dibaca dan dihayati ucapan itu begitu Indah dan melankolis. Tapi yang ada sesungguhnya kita lebih banyak membohongi diri sendiri, karena apa yang kita ucapkan dan kita buat kita belum bisa melakukannya atau belum dapat meraihnya, yaitu jadi Pemenang atas Dharma Jati Diri melawan Adharma yang ada dalam diri ini juga.
Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti; menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan dalam Bahasa Bali Kuno. Hari Raya Galungan sudah dirayakan terlebih dahulu di tanah Jawa, ini sesuai dengan lontar berbahasa Jawa Kuno yaitu : Kidung Panji Amalat Rasmi. Di Bali Hari Raya Galungan untuk pertama kali dilaksanakan pada Hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi ini sesuai dengan lontar “Purana Bali Dwipa”
Makna Filossofis Galungan
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari Adharma dan mana dari Budhi Atma yaitu : Suara Kebenaran (Dharma) dalam diri manusia. Disamping itu juga berarti kemampuan untuk membedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad) karena hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Dalam lontar Sunarigama dijelaskan rincian upacara Hari Raya Galungan sebagai berikut: “Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacuan pikiran” Jadi inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacuan pikiran (byaparaning idep) adalah wujud Adharma. Kesimpulan dari lontar Sunarigama; bahwa Galungan adalah kemenangan Dharma melawan Adharma.
Namun kemudian muncul pertanyaan untuk kita semua; setelah sekian lama umat Hindu merayakan Galungan setiap enam bulan sekali, Apakah umat Hindu sudah menang? kemenangan seperti apa?, mengapa ada gejala moralitas semakin menurun, seolah-olah Adharmalah yang menjadi pemenang !?. Jika direnungkan berarti selama ini mungkin kita telah melakukan kekeliruan interpretasi terhadap hari Raya Galungan, sehingga pesan terdalam yang menjadi ROH dari Galungan hilang tak berbekas, karena kita baru besar pada ritual atau berupacara saja, tetapi belum bisa memaknainya sebagai media untuk merubah diri dari Avidya menuju Vidya agar menjadi Vijnanam untuk mencapai Anandam
Pesan Rohani Galungan
“Perangilah musuh dalam dirimu, hingga Engkau layak merayakan Galungan”
1). Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba yaitu;
Sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrocosmos) yang jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang. Kata Sugihan berasal dari urat kata Sugi yang artinya membersihkan dan Jaba artinya luar, dalam lontar Sundarigama dijelaskan: bahwa Sugihan Jawa merupakan “Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh” (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Dan yang terpenting adalah membersihkan badan phisik dari debu kotoran dunia Maya, agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura.
2). Sugihan Bali
Bali dalam bahasa Sanskerta berarti kekuatan yang ada dalam diri. Jadi Sugihan Bali memiliki makna yaitu menyucikan diri sendiri sesuai dengan lontar sunarigama: “Kalinggania amrestista raga tawulan” (oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing /mikrocosmos) yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan. Manusia tidak saja terdiri dari badan phisik tetapi juga badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira). Persiapan phisik dan rohani adalah modal awal yang harus diperkuat sehingga sistem kekebalan tubuh ini menjadi maksimal untuk menghadapi musuh yang akan menggoda pertapaan kita.
3). Panyekeban – puasa I
Jatuh pada hari Minggu Pahing Dungulan.
Panyekeban artinya mengendalikan semua indrya dari pengaruh negatif, karena hari ini Sangkala Tiga Wisesa turun ke dunia untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam melaksanakan Hari Galungan. Dalam Lontar Sunarigama disebutkan: “Anyekung Jnana” artinya mendiamkan pikiran agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan dan juga disebutkan “Nirmalakena” (orang yang pikirannya yang selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Bhuta Galungan. Melihat pesan Panyekeban ini mewajibkan umat Hindu untuk mulai melaksanakan Brata atau Upavasa sehingga pemenuhan akan kebutuhan semua Indriya tidak jatuh kedalam kubangan dosa; pikirkan yang baik dan benar, berbicara kebenaran, berprilaku bijak dan bajik, mendengar kebenaran, menikmati makanan yang sattvika, dan yang lain, agar tetap memiliki kekuatan untuk menghalau godaan Sang Mara. Jadi tidak hanya nyekeb pisang atau tape untuk banten.
4). Penyajan – puasa II
Artinya hari ini umat mengadakan Tapa Samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata. Penyajan dalam lontar Sunarigama disebutkan: “Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi” upacara ini dilaksanakan pada hari Senin Pon Dungulan. Dengan Wiweka dan Winaya, manusia Hindu diajak untuk dapat memilah kemudian memilih yang mana benar dan salah, yang mana boleh dan tidak boleh, yang mana hak dan yang bukan hak.bukan semata-mata membuat kue untuk upacara.
5). Penampahan – puasa III
Berasal dari kata tampah atau sembelih artinya; bahwa pada hari ini manusia melakukan pertempuran melawan Adharma, atau hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok yaitu Mabyakala yaitu; membayar kepada Bhuta Kala. Makna sesungguhnya dari hari penampahan ini adalah memangkas dan mengeliminir sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri, bukan semata-mata membunuh hewan korban, karena musuh sebenarnya ada di dalam diri, bukan di luar termasuk sifat hewani tersebut. Ini sesuai dengan lontar Sunarigama yaitu ; “Pamyakala kala malaradan” artinya membayar hutang kepada ruang dan waktu. Bhuta = ruang , Kala = waktu , jadi Bhuta kala adalah ruang dan waktu, jadi harus diharmonisasi karena kita hidup diantara keduanya termasuk Atma hidup di antara ruang dan waktu jasmani yang diliputi oleh Bhuta. Inilah puncak dari Brata dan Upavasa umat Hindu, bertempur melawan semua bentuk Ahamkara – kegelapan yang bercokol dalam diri. Selama ini justru sebagain besar dari kita malah berpesta pora makan, lupa terhadap jati diri, menikmati makanan, mabuk. Sehingga bukan Nyomya Bhuta Kala- Nyupat Angga Sarira, malah kita akhirnya menjelma jadi Bhuta itu sendiri. Dengan demikian bagaimana mau jadi pemenang malah jadi pecundang.
6). Galungan – lebar puasa
Hari kemenangan dharma terhadap adharma setelah berhasil mengatasi semua godaan selama perjalan hidup ini, dan merupakan titik balik agar manusia senantiasa mengendalikan diri dan berkarma sesuai dengan dharma dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan dalam usaha mencapai anandam atau jagadhita dan moksa serta shanti dalam hidup sebagai mahluk yang berwiweka.
7). Manis Galungan
Setelah merayakan kemenangan , manusia merasakan nikmatnya (manisnya) kemenangan dengan mengunjungi sanak saudara dengan penuh keceriaan, berbagi suka cita, mengabarkan ajaran kebenaran betapa nikmatnya bisa meneguk kemenangan. Jadi hari ini umat Hindu wajib mewartakan-menyampaikan pesan dharma kepada semua manusia, inilah misi umat Hindu: Dharma Vada- menyampaikan ajaran kebenaran dengan Satyam Vada – mengatakan dengan kesungguhan daan kejujuran. “kabarkan kebenaran ini kepada mereka yang masih tersesat agar kembali ke ajaran Dharma, sampaikan kepada mereka wahai putra Utama”- janganlah malahan Engkau yang menjadi manusia tersesat dan kesasar dengan meninggalkan Dharma”!!
8). Pemaridan Guru
Jatuh pada hari Sabtu Pon Dungulan, maknyanya pada hari ini dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan yaitu; hidup sehat umur panjang dan hari ini umat menikmati waranugraha dari dewata. Demikian makna Hari Raya Galungan sebagai hari pendakian spritual dalam mencapai kemenangan /wijaya dalam hidup ini ditinjau dari sudut pelaksanaan upacara dan filosofisnya.
Kuningan: hari Kasih Sayang
Sepuluh hari setelah hari Galungan kita rayakan sebagai hari suci Kuningan, yang sesungguhnya adalah merupakan pengejawantahan ajaran kebenaran itu sendiri berupa pelaksanaan pelayanan yang didasari oleh perasaan cinta kasih, hal ini terlihat dari berbagai simbol upakara yang digunakan saat hari Kuningan diantaranya:
1). Tamiang (Tameng), setiap umat semestinya mampu memberikan perlindungan, akan rasa aman dan nyaman dari anacaman, gangguan baik sekala dan niskala
2). Nasi Sulanggi (Su = baik, Langgi = panutan), umat Hindu harus dapat menjadi panutan baik bagi anak, istri, suami, keluarga, kerabat, bawahan. Intinya Ia harus menjadi suri tauladan kebenaran.
3). Nasi Tebog, mengisyaratkan kepada umat Hindu untuk bisa saling care (melindungi) dan share (berbagi), apalagi kepada mereka yang kesusahan dan sedang menderita (daridra deva bhava = kaum fakir miskin yang datang kepadamu adalah perwujudan Tuhan)
4). Endongan, dalam mengarungi hidup ini kita tidak bisa berdiri sendiri kita membutukan orang bahkan mahluk lain, karena setiap kehidupan memerankan fungsinya sesuai dengan Rta (hukum abadi semesta alam)
5). Kompek, setiap manusia pasti membutukan bekal ataupun biaya untuk melangsungkan kehidupannya. Untuk itu kita diwajibkan untuk dapat juga memberikan bekal penghidupan baik berupa makanan, harta, pendidikan, dan sebagainya.
Demikian sekiranya kupasan filosofis Galungan dan Kuningan yang dapat diketengahkan, agar dapat menjadi bahan renungan kita dalam memperbaiki, menata hidup ini agar dapat meniti kehidupan yang jauh lebih bermartabat, bersaaja, dan akhirnya dapat berlabuh dilautan kedamaian.
“Jika seekor kupu-kupu saat mereka mencari madu pada sekelopak bunga saja dapat tidak membuat bunga itu berguguran, apalagi manusia yang dianugerahkan wiweka dan winaya tentunya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terlahir sebagai manusia dengan melanggar Dharmaning Kamanusan”. Avighnamastu…!
Om Santih Santih Santih Om

Oleh : I Wayan Sudarma,(Shri Danu Dharma P.)

Monday, January 11, 2016

SUPERMAN IS DEAD, Musisi yang juga pemungut sampah

Siapa yang tidak kenal dengan SUPERMAN IS DEAD (SID)? Band punk rock asal pulau dewata ini sudah malang melintang di dunia permusikan Indonesia selama lebih dari 15 tahun. SID mengusung lirik-lirik yang penuh dengan suara tentang carut marut  kehidupan sistem sosial. “Sejarah Punk memang lahir untuk bersuara tentang ketidak pedulian masyarakat dari hal – hal kecil yang berdampak besar. Tentang pluralitas dan keberagaman, tentang solidaritas bahkan tentang keberlanjutan sistem sosial dalam penataan lingkungan hidupnya adalah satu nilai yang terkandung dalam aliran ini. Karena itu,  dengan lirik lagu yang disuarakan ditambah action secara langsung adalah arti penting untuk membuat counter culture dari kerusakan lingkungan yang sedang terjadi saat ini. Punk jangan di identikkan dengan tawuran, budaya pukul – memukul dan saling menyakiti karena banyak hal positif ada di dalam nilai – nilainya”, begitu ungkap JRX yang mempunyai nama asli I Gede Ari Astina sang penabuh drum SID. Statement JRX diatas benar benar membuktikan bahwa SID sangat peduli terhadap kelanjutan lingkungan hidup. Tidak hanya karya lagu tapi mereka juga melakukan perbuatan nyata.


Salah satu yang paling pertama dilakukan SID adalah mempopulerkan kebiasaan bersepeda. Hal ini dilakukan SID sejak awal 2006. Mereka mempopulerkan bersepeda dengan stlye lowrider. Sebenarnya maksud mempopulerkan kegiatan bersepeda saat itu adalah sedang berbarengan dengan gencar-gencarnya kampanye  global warming. Saat itu dan sampai sekarang pemanasan global masih menjadi isu dunia dalam bidang lingkungan hidup.
“Kerusakan lingkungan hari ini sudah sangat amburadul. Banyak ikan mati, cuaca yang sudah tidak menentu, polusi yang semakin membuat semakin ngerinya udara, sampah plastik dan bahan sampah yang tak terurai hingga perang di muka bumi dikarenakan berebut minyak sudah semakin menggila”, ucap I Made Eka Arsana alias Eka sang pembetot Bass dan backing vocal SID. Pemanasan global yang disebabkan terlalu banyaknya Gas Rumah Kaca dari beberapa zat  dan gas dari aktifitas di bumi sehingga terlalu banyak panas yang ditangkapnya. Dan akibatnya bumi semakin panas. Tentu, efek ini diakibatkan oleh banyak perilaku manusia di bumi yang tidak tahu sama sekali atau bahkan tak peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Hal ini semakin membuat SID semakin yakin untuk berbuat sesuatu untuk bumi dengan cara dan tradisi punk rock tentunya.

SID memuat kegelisahan mereka mengenai rusaknya bumi dan tidak pedulinya manusia terhadap kerusakan bumi dalam karya karya mereka. Lagu Marah Bumi dan Menginjak Neraka menjelaskan bagaimana manusia lepas tangan terhadap lingkungan alam. Tidak hanya melalui lagu SID juga bertindak nyata untuk ikut serta dalam kampanye penyelamatan bumi. Mereka ingin agar semua orang sadar dan mulai cinta alam. Kampanye penyebaran cinta alam ini pertama tama diberikan kepada para outsiders dan lady rose (fans SID). Banyak hal positif yang dilakukan SID dan outsiders. Setiap satu bulan sekali SID dan outsiders melakukan kegiatan bersepeda bersama dan bersih-bersih pantai serta menanam pohon. Berawal dari outsiders inilah diharapkan virus ini menyebar keseluruh lapisan masyarakat.
Banyak hal-hal sederhana yang dilakukan SID untuk menghindari global warming. Memungut sampah di pantai atau bahkan di jalanan. Salah satu trik dari JRX yaitu “Kalau kalian merokok, dan nggak ada tempat sampah, puntung rokoknya simpan dulu di kantong, sampai kalian nemu tempat sampah,” kata Jerinx. Selain itu jika kita belanja janganlah memakai kantong plastik dan jangan pernah meminta kantong plastik. Bahkan di distro milik JRX yaitu xRMBLx tidak disediakan kantong plastik, diharapakan yang datang membawa kantong plastik sendiri. Saat kita telah selesai mencharge handphone segera dicabut chargernya supaya menghemat listrik.


Kegiatan SID sejak tahun 2006 ini benar-benar telah membuat teman-teman outsiders dan lady rose mulai sadar lingkungan. Dengan atau tanpa SID pun mereka banyak melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang menyangkut tentang penekanan Efek Rumah Kaca. Hal ini membuktikan bahwa anak punk tidak selalu identik dengan kenakalan, mabuk-mabukan, tawuran, dan hal negatif lainnya, tapi anak punk juga mampu bertindak nyata menyelamatkan bumi seperti yang dilakukan SUPERMAN IS DEAD.